Keburukan juga adalah pelajaran

Tidak ada hal yang mutlak di dunia ini, tidak ada orang yang jahat-sejahatnya, dimana sampai tidak ditemukan setitik kebaikan pun di dalam dirinya, begitu juga sebaliknya dengan orang yang sebaik-baiknya yang tidak ditemukan setetes pun keburukan yang bersemayam di dalam dirinya.

Sebaik-baiknya orang suatu kali pasti berbuat jelek, seburuk-buruknya orang pasti dia berbuat baik, tidak ada yang abadi, tidak ada yang mutlak, tidak ada yang kekal. Jika kita belajar Dharma secara mendalam, pengertian karma itu akan membias, tidak sedangkal seperti pada awal kita belajar. Maksud membias adalah misalnya saat kamu sudah bisa menerima keburukan sebagai pelajaran, berarti sudah tidak ada karma lagi.


Selama kita tidak bisa, tidak mampu, tidak siap menerima keburukan sebagai pelajaran, selamanya karma itu ada. Ketika hasil karma buruk muncul dan kita bisa menerimanya, berarti kita tidak menciptakan karma yang lebih buruk lagi. Jika kita sudah bisa melihat keburukan dunia, kebencian, kejahatan, sebagai bagian dari pelajaran, maka bagi kita sudah tidak ada karma lagi, tidak ada batasan lagi. Yang buruk bisa berubah jadi baik. Kalau sudah begini apa yang menjadi halangan kita? Tidak ada lagi. Mau bertemu yang baik atau buruk, sama saja. Saat bertemu yang baik, ya itu pelajaran. Bertemu yang buruk, ya itu pelajaran juga.

Pupuk yang paling baik di dunia ini berasal dari kotoran, bukan berasal dari bahan kimia, bukan berasal dari benda-benda yang mahal.

Jadi dari keburukan dunia kita bisa belajar dan kalau kita bisa menggunakannya, bisa memanfaatkannya, akan menjadi bermanfaat sekali.
Share this post :

Post a Comment

Google Translate

Popular Post

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kumpulan Artikel Buddhist - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger